Friday, August 24, 2007

Nasehat untukku, Shinta, Mbak Cori, Mbak Anny, Mbak Ari, Dan semua teman2 yang ku kasihi। ( Jangan Lupa Untuk Saling Mengingatkan nanti.......)


1. KETIKA AKAN MENIKAH
Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita.
Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. KETIKA MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orangtua/wali si gadis, tetapi meminta kepada ALLOH melalui orang tua/wali si gadis.

3. KETIKA AKAD NIKAH
Anda berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan ALLOH

4. KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendoakan anda, karena anda harus berpikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila anda berpikir untuk BERCERAI karena menyia-nyiakan doa mereka.

5. SEJAK MALAM PERTAMA
Bersyukur dan bersabarlah. Anda adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.

6. SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tapi juga semak belukar yg penuh onak dan duri.

7. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG
Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan

8. KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK
Cintailah isteri atau suami anda 100%

9. KETIKA TELAH MEMIKI ANAK
Jangan bagi cinta anda kepada (suami) isteri dan anak anda, tetapi cintailah isteri atau suami anda 100% dan cintai anak-anak anda masing-masing 100%.

10.KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUMMEMBAIK
Yakinlah bahwa pintu rezeki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan isteri

11.KETIKA EKONOMI MEMBAIK
Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita

12.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkanpertolongan Anda.

13.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai danlemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semuapekerjaan.

14. KETIKA MENDIDIK ANAK
Jangan pernah berpikir bahwa orang tuayang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orangtua yang jujur kepada anak ..

15.KETIKA ANAK BERMASALAH
Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

16.KETIKA ADA PIL
Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

17.KETIKA ADA WIL
Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

18.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA
Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.

19.KETIKA INGIN LANGGENG DAN HARMONIS
Gunakanlah formula 7 K
1 Ketakwaan
2 Kasih sayang
3 Kesetiaan
4 Komunikasi dialogis
5 Keterbukaan
6 Kejujuran
7 Kesabaran

Friday, August 17, 2007

BERANI MELEPASKAN


Ada

hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan, orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan tapi ada saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang bukan karena orang itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika
kebahagiaan kita sangat bergantung pada orang itu.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika
kita merasa dia itu ganteng, cantik, teristimewa dibandingkan dgn yang lain.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika
kita takut tidak dapat menemukan yang seperti dia.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika
begitu banyak saat-saat indah senantiasa terbayang di benak kita.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika hati kita berkata "Saya sangat mencintainya".


Ingatlah !! Melepaskan bukanlah akhir dari dunia melainkan awal dari suatu kehidupan baru...

* Kita harus melepaskan seseorang karena kebahagiaan
kita tidak tergantung padanya.

* Kita harus melepaskan seseorang karena kita
menyadari yang ganteng,yang cantik, yang istimewa belum tentu yang terbaik
buat kita.

* Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu
jika Tuhan mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

* Kita harus melepaskan seseorang ketika saat-saat indah hanyalah tinggal masa lalu.

* Kita harus melepaskan seseorang karena kepala kita
berkata "tidak ada lagi yang dapat dipertahankan".

* Kegagalan tidak berarti Anda tidak mencapai apa-apa...
namun Anda telah memahami sesuatu...!



Segala sesuatu ada waktunya, ada saat mempertahankan, ada saat melepaskan...!!

Ini tentang aku dan bapakku



8 bulan sejak kepergianya menyisakan sesuatu yang sulit aku ungkapkan dalam sebuah cerita. Satu minggu sebelum dia pergi, dia menelponku di siang menjelang kepergianku ke jogja, sesuatu yang tak pernah dilakukan olehnya dihari - hari saat kami masih bersama. Lama sekali dia mengajakku ngobrol, menanyakan pekerjaanku, teman2 kantorku, anak2ku, dan seperti biasa diakhir pembicaraan, dia pasti bertanya kapan aku pulang. Kalau sudah begitu munculah ide itu membuatnya tersipu - sipu .... kenapa tanya begitu... kangen banget padaku, ya...? ups... klo sudah ku tanya begitu pastilah dia akan menjawab... aku selalu merindukan kalian dan setiap akhir sholatku aku selalu berdo'a untuk kalian agar semuanya diberi kesehatan dan pintar. Ya... aku tahu dia selalu begitu dan sangat yakin, aku bisa sampai seperti sekarang ini karena do'a itu.



Waktu itu kupikir sudah terlalu lama dia menelpon, ku minta dengan agak tegas padanya untuk mengakhiri,... sudahlah... tiga hari lagi aku janji menelponmu, sekarang aku sudah di tunggu mobil travel. dia belum mau beranjak sampai ku ancam segala misalkan nanti aku sampai terlambat dia harus mengganti semua biaya perjalananku ( kasar ... dan aku menyesal sekali..). akhirnya dia mengakhiri juga.. seperti biasa pula dia selalu berpesan padaku untuk berhati-hati, sholatku juga jangan sampai bolong. dan terakhir dia meyakinkanku untuk tiga hari ke depan jangan sampai lupa...

Next…

Hari rabu... Tiga hari setelah dia menelpon sebelum keberangkatanku ke jogja. aku baru saja keluar dari ruangan seminar setelah 6 jam mendengar cerita dan uraian panjang dari Tamam Husein sang pemandu bakat terkenal itu. Baru saja aku merebahkan badanku di kamar hotel, HP ku mengalunkan ringtone My Heart yang sengaja ku pilih untuk untuk orang2 yang sangat berarti bagiku. Ku lihat di layar... ups aku lupa... aku janji akan menelponnya dan aku benar - benar lupa.

Kuangkat.....

"Sudah tiga hari kan, Mbak...?" ( Mak Thuuueeeeng....!!!)

"iya... ma'af ( aku lupa...) aku belum sempat. Ini baru pulang dan baru saja masuk kamar."

Tapi dia tidak marah sama sekali, dia menanyakan keadaanku, tentang seminar pertama ku, teman2 baruku, siapa saja yang satu kamar denganku dari propinsi mana saja. yah... aku memang selalu di perlakukan seperti itu. Mungkin baginya aku selalu masih kecil.

Menelponku lama.... seperti tiga hari sebelumnya. dia bilang lebih baik menelponku lama dari pada harus datang ketempatku yang jauh. dia juga mengatakan aku nggak boleh bilang "semuanya tak berarti" meskipun sedikit semua pasti ada hikmahnya. dan terakhir kali kata yang ku dengar seperti biasa... " kapan kamu pulang....??? "

Sungguh ...

Aku tidak pernah tahu sebelumya bahwa pembicaraan di hari rabu itu adalah komunikasi terakhir antara dia dan aku. Memang.. aku menangkap suara yang terengah - engah dan mungkin bagiku itu adalah telpon termesra yang pernah kuterima.

Hari Jum'at... Suara Adzan Shubuh menggema. aku dibangunkan oleh suara HP yang kutahu itu pasti dari Rumah. Jam segini ada telpon dari rumah pasti ada sesuatu yang terjadi. dan pasti Dia.....

Aku pulang diantar teman2ku. aku masih belum bisa menangis sepanjang perjalanan. Aku tidak percaya....

Sampai di rumah. Aku tidak mencari siapa pun kecuali dia yang telah terbungkus kain putih dan harum.

lama.... lamaaaaa.... sekali aku menatapnya tanpa ada satu kata pun yang bias ku ucapkan. Meski tangis orang2 di sekelilingku memecah seketika bersama kedatanganku. Dan aku belum menangis.

Saat itu hanya satu yang terpikir diotakku... Setelah ini nanti aku harus bagaimana...

Ibu hanya melihatku sambil tak henti2nya menangis. Adik kecilku berdiri disampingku sambil memelukku erat. Dan aku... masih belum bisa menangis.

Akhirnya....

Kubuka bungkusan putih itu. Dengan tanganku sendiri... Ku usir tangan2 yang berusaha membantuku karena aku ingin melakukannya sendiri.

Wajahnya Merah seperti biasa. Matanya cekung seperti biasa, Senyumnya pun masih terkilas dengan jelas seperti terakhir kali aku bertemu dengannya tanggal 17 September 2006 lalu. Dia masih gendut dan rambutnya masih rapi seperti biasanya. Tapi dia diam. jika biasanya kalau kami bertemu dia menyambutku dengan hangat dan bertanya jam berapa dari Solo... Kali ini dia diam saja. Tak ada kata, tak ada senyum.

Aku menciumnya.... dan ku bisikkan dengan lirih ke telinganya... " Bapak... Mbak Dias pulang..." Lirih... Dan mungkin hanya aku dan dia yang bisa mendengarnya.

Aku mengantarnya sampai ke tempat terakhir dia harus tinggal. Aku ikut menimbunnya dengan tanah dan menaburkan bunga di atasnya. Dan Kali ini aku menangis. Tapi aku tidak meratap.

Malam itu ....

Aku sendirian dikamar yang biasanya aku gunakan untuk melepas rinduku dan memeluknya. Aku sendirian.

Aku mencoba mengingat kembali apa saja yang bisa ku ingat. Telpon yang terakhir itu, begitulah cara dia berpamitan padaku. dan aku mengerti sekarang... jika dia berkali -kali menanyakan kapan aku pulang... mungkin karena dia rindu sekali padaku dan dia tahu umurnya tak lama lagi.

Dan malam ini...

Entahlah.... tiba2 saja aku rindu sekali padanya. Jika biasanya klo aku rindu aku langsung menelponnya, kini....

Aku tak pernah bisa bercerita bahwa hubunganku dan dia tidak terbatas hubungan Bapak dan anak. Dia itu sahabatku, Teman baikku. Saat aku lelah dia pasti datang dengan pelukannya. Meski dia sering membuatku takut tapi aku pasti akan merasa lebih baik jika ada dia di sampingku.

Bapakku tidak pernah marah padaku apalagi memukul, menurutnya itu adalah pantangan besar. Dia banyak mengajarkanku tentang kemuliaan hati dan etika. Bagaimana aku harus memperlakukan teman2ku, anak2ku kelak, muridku, dan semua orang disekitarku. Bagaimana aku harus memperlakukan ibu dan memperlakukannya. bagaimana seharusnya jika aku marah, memperlakukan orang yang tidak menyukaiku dan tentunya... bagaimana aku harus membawa diriku dalam hubungan dengan pria.

Dia tidak pernah mendampingiku. Kemana dan apa saja yang ku lakukan dia menyuruhku maju sendiri. Aku sempat marah padanya mengenai ini dan dia hanya diam saja. Tapi belakangan ini aku mulai mengerti... semuanya agar aku berani, agar aku tidak bergantung pada orang lain, dan tentunya agar aku kelak bisa menggantikannya.

Bapakku...

Tempat aku mendiskusikan tentang pekerjaanku, hubunganku dengan teman2 kantorku, dan calon suamiku. Bunga - bungaku dia yang merawatnya meski hanya memberinya pupuk saja.

Banyak... banyak sekali hal2 yang kualami bersamanya ketika aku masih kecil sampai sebesar ini yang bagiku sangat berarti dan ketulusan serta kedekatan itu hanya aku dan bapakku yang merasakannya. semua orang tak pernah tahu, bahkan ibuku sekalipun.... dia pun tak bisa memahami kedekatan macam apa yang terjalin antara aku dan bapakku.

Aku tahu....

banyak orang yang tidak bisa menerimanya. Aku pahami bapakku punya masa lalu yang tidak menyenangkan. Banyak yang mengucilkannya dan tidak sedikit pula dari mereka yang mengucilkanku juga ( mungkin perasaan yang sama ini yang membuat kami saling mengasihi...) Tapi bagiku... Apa dan bagaimana pun, Bapakku adalah lelaki yang terbaik yang pernah ku miliki. Apa pun yang dia lakukan aku menerimanya sebagai usaha terbaik darinya untuk menyayangiku. dan apa pun yang ku lakukan karena aku juga sangat mencintainya. Aku tidak peduli apa kata orang lain tentangnya... aku hanya tahu bapakku mencintaiku dan menyangiku.

Satu hal yang mungkin membuatku agak ringan melepasnya... aku sudah pernah mengatakanya dengan badanku menghadap kepadanya, mataku menatapnya dan tanganku menggenggam tangannya ...waktu itu aku bilang begini

" Bapak... Terima Kasih Untuk semuanya... Mbak Dias tidak akan pernah bisa seperti sekarang ini tanpa dukungan dan banyak hal yang bapak lakukan... Terima Kasih ya, Pak... Mbak Dias sayang sekali sama bapak... dan semua yang Mbak dias lakukan hanya karena Mbak Dias sayang Bapak...."

Saat mengatakan itu aku tidak bisa menyembunyikan air mataku dan mata bapakku pun berkaca - kaca. dan mulai saat itu aku tidak pernah sungkan lagi untuk bermanja – manja dan menciumnya didepan teman2nya sekalipun aku sudah sebesar ini. Dan aku melalui hari2ku dengan langkah ringan karena aku telah melakukan sesuatu hal besar yang membutuhkan satu keberanian dan kekuatan yang tidak kecil.

and the last word...

Jika Allah memberi Kesempatan kami untuk bertemu dan berkumpul lagi... aku ingin memeluknya. hanya ingin memeluknya karena aku sangat rindu sekali padanya.

Dan sekarang aku sudah menikah dengan laki2 yang menjadi pilihanya dan menjadi pilihanku juga. dan aku tahu bapakku bisa menilai laki2 yang baik untuk mendampingiku. Naluri laki2nya takkan pernah salah.

Ohya.... Namanya Pak Subawi dan aku sangat bangga memakai namanya sebagai nama belakangku.